1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna

Orang Amerika Baru Kenal Bali

Banyak orang Amerika tahu Bali, tapi kalau ditanya soal Indonesia mungkin baru dengar sekali dua kali. Malah kadang ada yang mengira Bali dan Indonesia adalah dua negara berbeda.

Hal itulah yang menjadi alasan pemerintah Indonesia menggencarkan promosi pariwisata “Wonderful Indonesia” di Washington, D.C.. Selama bulan Oktober ini, visual-visual cantik destinasi pariwisata Indonesia dipajang di transportasi publik – dari kereta dan bus metro, bus tingkat, dan sistem penyewaan sepeda.

image
image

Kampanye “Wonderful Indonesia” dipasang di transportasi publik Washington DC di kawasan yang dekat dengan kantor IMF dan World Bank. (Foto: KBRI Washington DC)

Kampanye ini juga dilakukan di markas besar IMF dan World Bank. Dua lembaga ini akan rapat tahunan di Bali, Oktober tahun depan. Pemerintah Indonesia menarget kalangan dua institusi global ini untuk juga berlibur ketika datang untuk rapat nanti. Mereka yang bekerja di lembaga ini pasti memiliku daya beli yang sangat tinggi.

Ada tujuh lokasi yang ditawarkan: Wakatobi, Bunaken, Raja Ampat, Toba, Jakarta, Lombok, dan tentu saja Bali. Tempat-tempat ini dipilih karena keunikannya. Wakatobi, Bunaken, dan Raja Ampat, sebagai misal, adalah tiga dari sejumlah lokasi selam terbaik di dunia. Sesuatu yang menurut survey lebih indah ketimbang yang ada di Thailand atau Vietnam, tapi tetap kalah popularitasnya.

Saya bisa menebak-nebak Thailand dan Vietnam lebih populer karena sejumlah hal. Vietnam punya kedekatan sejarah dengan Amerika Serikat. Thailand sudah lebih dulu masuk film seperti Kepulauan Koh Phi Phi dalam film The Beach (2000) dan Kota Bangkok dalam film Hangover 2 (2011). Dan mungkin, Indonesia identik sebagai negara dengan penduduk muslim yang besar sehingga menjadi berbeda dibanding kebanyakan negara Asia Tenggara.

Hal lainnya yang berpengaruh terhadap pengetahuan orang Amerika terhadap negara lain adalah populasi diasporanya. Orang Thailand di Amerika mencapai 1,3 juta (2015) dan Vietnam mencapai 2 juta (2015). Bandingkan dengan orang Indonesia yang tak sampai 100 ribu (2010).

Kondisi ini juga mungkin berhubungan dengan kenapa restoran Thailand dan Vietnam bisa ditemukan di banyak tempat di Amerika (bahkan di seberang apartemen saya di Arlington, Virginia, ada 1 restoran Thailand dan 1 restoran Vietnam). Tapi kalau restoran Indonesia sangat sedikit di seluruh AS, bahkan di Washington D.C. saja tidak ada.

image
image

Restoran Thaiphoon (Thailand) dan Saigon-Saigon (Vietnam) di Pentagon Row, Arlington, selalu ramai pengunjung. (Foto: Google Maps)

Indonesia bukannya tidak signifikan bagi AS. Indonesia adalah mitra utama AS di Asia Tenggara dalam perdagangan, kontra-terorisme, dan juga dialog lintas-agama. Tapi itu kan terjadi di kalangan pemerintah dan pebisnis. Bagi orang-orang biasa yang ingin berwisata, itu semua tidak ada artinya.

Upaya memperkenalkan Indonesia ke publik Amerika memang perjalanan panjang. Namun itu semua patut dicoba dengan kerja keras. Semoga semakin banyak turis AS ke Indonesia. Kita doakan yang terbaik!

Indonesia restoranindonesia WonderfulIndonesia pariwisata WashingtonDC thailand vietnam bali

Serba Serbi Wisuda di Amerika

Beberapa minggu lalu, saya mendapat undangan menghadiri wisuda dari seorang sahabat yang baru datang dari Indonesia. Ia berkunjung ke Amerika untuk beberapa keperluan, tetapi yang utama adalah menghadiri wisuda putrinya, yang baru saja lulus meraih gelar S-1 di University of Maryland.

Pada hari yang sama, saya juga diajak seorang teman untuk menghadiri syukuran atas kelulusan putra seorang kenalan. Masih pada bulan ini juga, saya melihat beberapa teman memasang foto-foto di laman Facebook yang memancarkan kebahagiaan mendampingi putra putri mereka wisuda. Lalu saya ingat-ingat lagi tanggal wisuda anak sulung saya tiga tahun silam. Ternyata tahun ini memang sudah sampai pada musimnya wisuda.

Wisuda, yang menandai berakhirnya masa kuliah, biasanya dilakukan pada penghujung semester. Pada semester musim dingin, wisuda berlangsung pada bulan Desember. Sedangkan untuk semester musim semi, wisuda dilangsungkan pada bulan Mei-Juni. Karena biasanya banyak mahasiswa lulus pada semester musim semi, tak heran acara wisuda pada musim ini pun dihadiri oleh lebih banyak orang.

Yang jelas, setelah beberapa kali menghadiri wisuda di dalam dan di luar negara bagian tempat saya tinggal, saya melihat setiap acara wisuda memiliki kekhasan tersendiri. Baik itu di perguruan tinggi besar maupun kecil, upacara yang mereka gelar tentu bakal menjadi kenangan istimewa bagi para alumninya.

image

Penuh sesak - Tak satupun kursi kosong terlihat di stadion football di Liberty University, Lynchburg, Virginia, sewaktu para wisudawan-wisudawati dan hadirin menyimak pidato wisuda yang disampaikan Presiden Donald Trump. (Foto: C. Presutti/VOA)

Nah, apa yang menarik dari wisuda di Amerika? Berikut beberapa di antaranya.

Keep reading

wisuda tradisi wisuda donald trump mike pence mark zuckerberg oprah winfrey hillary clinton facebook steve jobs

Dilema Kebebasan Berpendapat di Kampus-Kampus Amerika

Benarkah kebebasan berpendapat terancam di kampus-kampus Amerika?

Pertanyaan ini menjadi pembahasan dalam dialog interaktif VOA dengan Sonora Networks minggu lalu setelah muncul berbagai laporan tentang kekerasan yang mewarnai demonstrasi di sejumlah kampus seperti UC Berkeley, Middlebury College, Claremont Colleges dan California State University di Los Angeles.

Unjuk rasa mahasiswa, yang banyak juga secara damai ini, ditujukan untuk menghadang atau memprotes pidato-pidato yang mereka pandang kontroversial di kampus mereka.

Selain soal keamanan, unjuk rasa dengan kekerasan itu membuat para pendukung kebebasan berpendapat prihatin karena dalam sejarahnya, universitas di Amerika selalu mendorong perdebatan terbuka.  Mereka bahkan mengizinkan pidato tokoh-tokoh kontroversial sebagai salah satu wacana pendidikan, bahkan pembicara yang dipandang bisa memicu kebencian.

image

Pengunjuk rasa menyaksikan kobaran api di Sproul Plaza saat berdemonstrasi menentang pidato yang dijadwalkan oleh editor Breitbart News Milo Yiannopoulos di kampus Universitas California di Berkeley, 1 Februari 2017.

Aksi-aksi penolakan ini tampaknya sejalan dengan survei YouGov yang menunjukkan 43 persen mahasiswa ingin kampus terbebas dari diskriminasi walaupun itu berarti akan ada pembatasan terkait pembicara dan topik diskusi di kampus mereka. Menurut survei tahun 2015 ini, prioritas kampus bukan hanya melindungi hak mutlak untuk kebebasan berbicara.

Tapi banyak yang berpendapat bahwa pihak sekolah atau perguruan tinggi harus melakukan lebih banyak untuk melindungi para pembicara yang sudah diundang untuk berbicara.

Will Creeley, wakil presiden advokasi hukum di Foundation for Individual Rights in Education (FIRE), termasuk orang yang menyalahkan pihak kampus karena menyerah pada tuntutan para demonstran dengan kekerasan itu dan mengemukakan kepada VOA bahwa insiden itu menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang UUD yang melindungi kebebasan berbicara di AS.

Yang cukup mengherankan adalah alasan bahwa ujaran kebencian juga dilindungi First Amendment atau Amandemen Pertama UUD AS.

Memang ada beberapa jenis ujaran yang tidak dilindungi oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS. Tapi pengecualiannya sempit dan tidak ada hubungannya dengan “ucapan kebencian” seperti yang digunakan secara konvensional maupun semua pernyataan yang menyinggung perasaan orang lain dari agama atau ras yang berbeda.

Pengecualian diberikan untuk “fighting words” - penghinaan pribadi yang langsung ditujukan kepada orang tertentu, yang kemungkinan besar akan segera memicu perkelahian.

Menurut Will Creeley, Mahkamah Agung AS cukup bijak ketika membatasi kategori pidato yang tidak dilindungi itu ke dalam sekumpulan pengecualian yang sempit, termasuk ancaman sesungguhnya (true threats), intimidasi, hasutan, dan kecabulan. Kampus-kampus yang menerima dana federal memiliki kewajiban hukum untuk melarang pelecehan yang diskriminatif tapi pengecualian ini memiliki definisi hukum yang dibuat dengan hati-hati. Definisi itu rasanya cukup rumit untuk dipahami orang awam.

“Hate speech”juga tidak memiliki makna yang tegas dan tetap menurut undang-undang AS, kata Eugene Volokh, dosen di UCLA School of Law.

Dengan ketidakjelasan terkait definisi ujaran kebencian dan apa saja yang dilindungi konstitusi sebagai kebebasan berpendapat ini, banyak kalangan tertentu dengan mudahnya melontarkan ujaran kebencian, penistaan dll. di kampus tanpa takut akan konsekuensinya.

Lebih dari 30 kampus di AS, termasuk University of Texas, University of Maryland, University of Hartford di Connecticut, University of Rochester di New York dan Auburn University di Alabama, akhir-akhir ini menjadi target kelompok-kelompok supremasi kulit putih yang mengedarkan pamflet-pamflet yang menyatakan “America is a white nation.”

image

Pamflet itu juga mengajak para mahasiswa kulit putih untuk melaporkan orang-orang yang mereka duga penduduk gelap kepada dinas imigrasi karena mereka kriminal.

Aksi ini rupanya tanggapan atas kebijakan universitas mereka untuk melindungi hak-hak sipil mahasiswa yang tidak memiliki dokumen imigrasi.

Tren-tren berbahaya di perguruan tinggi Amerika ini mendorong legislator di beberapa negara bagian untuk membuat UU baru yang lebih tegas dan jelas terkait kebebasan berbicara di perguruan tinggi.

Legislator dari kedua partai utama di Tennessee baru saja meloloskan RUU yang melindungi kebebasan berpendapat para mahasiswa di kampus. Pihak universitas juga tidak boleh begitu saja membatalkan pembicara yang sudah diundang hanya karena diprotes pihak tertentu.

UU tersebut melarang dibentuknya “free speech zones,” yang digunakan pejabat universitas untuk membatasi pidato-pidato kontroversial di tempat-tempat tertentu saja. Negara bagian Virginia, Missouri, Arizona, dan Colorado sudah mengadopsi aturan ini sejak April lalu.  

Di Michigan, dua RUU sedang digarap di Senat negara bagian itu untuk memberi hukuman yang berat kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri yang melanggar hak kebebasan berbicara di kampus. Selain itu, katanya definisi pelanggaran itu sendiri juga akan di perjelas. RUU serupa juga sedang diajukan di California.

Banyak juga seruan untuk mempertahankan First Amendment sebagaimana yang dimaksud para pendiri Amerika Serikat. Apalagi sempat muncul wacana bahwa Presiden Donald Trump ingin mengubah amandemen yang melindungi kebebasan berbicara itu karena kesalnya dia pada media-media yang katanya menyebar berita palsu. Kesalnya dia pada orang-orang yang membakar bendera sebagai aksi protes.

Bagaimana mempertahankan kebebasan berpendapat sepenuhnya tanpa merugikan pihak lain tidaklah mudah.

image

Sebuah selebaran terlihat di papan pengumuman dekat Sproul Hall di Universitas California Berkeley, California. Mahasiswa yang mengundang Ann Coulter untuk berbicara di kampus mengajukan gugatan hukum, 24 April 2017, dengan mengatakan universitas tersebut melakukan tindakan diskriminatif terhadap pembicara konservatif dan melanggar hak para siswa untuk kebebasan berbicara.

Masyarakat Amerika, terutama kaum muda sepertinya perlu memahami hubungan antara apresiasi yang lebih luas terhadap kebebasan berbicara dan bagaimana kebijakan tertentu dapat mengurangi atau mengikis kebebasan itu secara permanen.

Dalam sebuah blog di website American Civil Liberties Union baru-baru ini yang berjudul “We All Need to Defend Speech We Hate,” pengacara ACLU Lee Rowland mengemukakan bahwa melarang atau berteriak-teriak menolak pidato yang dipandang berisi kebencian atau rasis sama saja artinya dengan penyensoran.

Rowland mengemukakan bahwa ketika semua orang bebas berpendapat, yang kemudian menciptakan bursa ide, maka ide terbaik yang akan menang. Jadi yang sebenarnya dibutuhkan adalah melatih para mahasiswa untuk benar-benar mendengarkan gagasan yang mereka benci dan merespons dengan sebaik-baiknya.

Bila memilih penyensoran sebagai substansi argumen, maka kita akan kalah dalam perdebatan, tambah Rowland. Karena tak satu pun dari kita yang akan menjadi lebih bijak, lebih luas pengetahuannya tentang berbagai hal ketika pendapat yang berbeda dibungkamkan.

Kalau meminjam istilah perkuliahan berarti para mahasiswa itu tidak melakukan tugasnya. Nilai untuk debat intelektualnya F.

Proses untuk melibatkan mahasiswa dalam wacana yang produktif dan kritis bisa saja menciptakan ketegangan dan konflik bagi banyak orang, mengingat tidak semua anggota masyarakat kampus memandangkebebasan berbicara yang dilindungi UU itu sebagai pidato yang baik atau produktif.

Namun, daripada mencap mahasiswa sebagai “makhluk yang rapuh” atau memaksa institusi untuk menghukum mahasiswa yang ingin memprotes pembicara di kampus, tentu ada pendekatan yang lebih baik, kata Neal H. Hutchens, profesor pendidikan tinggi di University of Mississippi dan Brandi Hephner LaBanc, wakil urusan kemahasiswaan di University of Mississippi

Jika mahasiswa mengungkapkan keberatan terhadap pembicara kontroversial, ada baiknya mereka ditanggapi dengan serius, kata Hutchens . Libatkan mereka dalam pembahasan tentang bagaimana merekonsiliasi keprihatinan mereka dan komitmen institusi untuk menjunjung kebebasan berbicara.

Isu kebebasan berbicara di kampus biasanya dan bisa membuat mahasiswa dan pejabat kampus tidak nyaman. Tapi ketidaknyamanan itu juga menghadirkan peluang untuk bertumbuh.

Kebanyakan orang Amerika percaya bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mendorong perdebatan dan untuk membantu mahasiswa menimba ilmu dari pengalaman dalam memproses dan menanggapi pesan-pesan yang mereka anggap tidak pantas.

Dengan demikian diharapkan semua pihak bertekad menjaga kampus agar bebas melakukan dialog yang bermakna berdasarkan rasa saling hormat.

Adriana Sembiring

Washington D.C.  12 Mei 2017

kebebasan berpendapat ujaran kebencian uc berkeley first amendment free speech zones

Mengapa “Equal Pay Day” Diperingati di Amerika?

Bagi perempuan, topik tentang uang, berapa besar penghasilannya, berapa besar tabungannya atau berapa sewa rumahnya, tabu untuk dibicarakan didepan umum. Untungnya di Amerika Serikat ada satu hari yang bisa dipakai untuk mengikis keengganan perempuan untuk berbicara soal uang, terutama tentang upah yang setara dengan kaum lelaki.

“Equal Pay Day” memang bukan hari besar resmi tapi hanya hari simbolis menandai seberapa jauh ke tahun ini kaum perempuan harus bekerja untuk mendapatkan upah yang sama dengan kaum lelaki dalam satu tahun sebelumnya.  

Sebagai perempuan yang tidak merasakan perbedaan gaji dengan kolega laki-laki saya di kantor VOA, saya menjadi bertanya-tanya mengapa Equal Pay Day masih keras gaungnya mengingat kesetaraan upah  atau Equal Pay Act sudah berlaku selama 54 tahun di Amerika?

Apalagi UU itu juga sudah diperkuat oleh Presiden Obama dengan The Lilly Ledbetter Fair Pay Act, pada 29 Januari, 2009, legislasi pertama yang dia tanda tangani ketika memasuki Gedung Putih. Peraturan ini mempermudah seorang perempuan untuk menggugat majikannya jika terbukti dia mendapat gaji yang lebih kecil dibanding laki-laki dalam pekerjaan yang sama.

image

Presiden Barack Obama menandatangani keppres yang bertujuan untuk menutup kesenjangan kompensasi antar, Selasa, April 8, 2014, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, dalam sebuah acara Equal Pay Day. Lilly Ledbetter, berbaju hijau, berdiri di sebelah presiden. (AP Photo/Susan Walsh)

Equal Pay Day tahun ini diperingati pada tanggal 4 April lalu, yang berarti perempuan harus bekerja tiga bulan lagi ke tahun 2017 untuk menyamai pendapatan laki-laki pada tahun 2016.

Equal Pay Day memang datang lebih cepat tahun ini (Equal Pay Day tahun 2016 jatuh pada tanggal 12 April) tapi para advokat tidak melihatnya sebagai perubahan yang signifikan karena perbedaan upah masih tetap besar.

National Partnership for Women and Families (NPWF) mencatat bahwa kesenjangan rata-sata hanya berubah satu sen, dari 79 menjadi 80 sen dari satu dolar yang diperoleh laki-laki dalam setahun ini.

Perbedaan itu sangat besar mengingat kira-kira setengah tenaga kerja di Amerika adalah perempuan. Secara keseluruhan, perempuan Amerika kehilangan sekitar $ 840 miliar per tahun karena kesenjangan itu, dan pada tingkat individu artinya perempuan bisa kehilangan dana untuk membeli kebutuhan dapur selama satu tahun lebih.

Bayangkan dampaknya jika perempuan ini adalah pencari nafkah tunggal atau orang tua tunggal. Keluarga ini bisa hidup dalam kondisi yang buruk dan kekurangan gizi.

image

(AP Photo/Jessica Hill)

Tapi ternyata banyak juga orang Amerika tidak percaya bahwa kesenjangan gaji ada, meskipun ekonom telah sepenuhnya menolak kesalahpahaman itu.

Tujuh dari 10 pekerja yang disurvei oleh situs tenaga kerja Glassdoor.com pada 2016 menunjukkan mereka percaya lelaki dan perempuan dibayar setara oleh perusahaan mereka. Laki-laki jauh lebih banyak yang mengatakan hal tersebut, di mana hampir 8 dari 10 setuju, dibandingkan dengan 6 dari 10 perempuan yang setuju.

Dan kalaupun mereka mengakui ada perbedaan upah antar gender, seberapa besar kesenjangan itu masih terus diperdebatkan.

Biro Sensus mengatakan perempuan mendapatkan 79 sen untuk setiap dolar yang mendapatkan laki-laki, berdasarkan gaji rata-rata pekerja penuh waktu. Tapi kalau berbicara soal upah mingguan dan per jam, kesenjangan tidak begitu besar, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja.

Orang-orang yang mengatakan kesenjangan upah antar gender hanya mitos mengemukakan bahwa perbedaan gaji antara perempuan dan laki-laki jelas dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk pendidikan formal dan keterampilan yang dipelajari pada pekerjaan melalui pengalaman kerja.

Menurut mereka, rata-rata perempuan memiliki pengalaman kerja lebih sedikit, perempuan mengambil waktu untuk membesarkan anak-anak dan mereka memilih karier yang cenderung memiliki jam kerja yang lebih fleksibel dan potensi penghasilan lebih rendah.

Selain itu, dibandingkan dengan perempuan, kaum lelaki cenderung tertarik ke arah jurusan kuliah dengan nilai pasar yang lebih besar. Misalnya, sekitar 80% laki-laki memilih jurusan teknik dan ilmu komputer jurusan sementara 66% perempuan memilih jurusan ilmu-ilmu sosial, drama, tari, pendidikan dan jurusan seni rupa.

Penelitian Warwick Economics pada tahun 2016 menemukan bahwa bagi pekerja di bawah 40 tahun, tampaknya tidak ada perbedaan dalam situasi di mana perempuan dan laki-laki itu memiliki pekerjaan di mana gaji bisa dinegosiasikan; di mana kedua gender berhasil memperoleh kenaikan gaji jika mereka memintanya. Jadi, jika para perempuan berusia 40 tahun ke bawah ini menegosiasikan kenaikan gaji sesering laki-laki, mereka akan mendapatkannya.

Linda Babcock, profesor ekonomi di Carnegie Mellon University dan salah seorang pendiri organisasi “Women Don’t Ask,” mencatat bahwa perempuan kadang-kadang dibayar lebih kecil karena mereka tidak bernegosiasi sesering dan sepintar rekan lelaki mereka ketika membahas gaji awal atau pun kenaikan gaji.

Kalau bisa saya simpulkan perempuan umumnya mendapat gaji yang lebih kecil untuk pekerjaan dan jabatan yang serupa karena tiga faktor signifikan, yaitu penalti yang dihadapi perempuan karena menjadi seorang ibu, kurangnya kemampuan perempuan untuk menegosiasikan gaji, dan bias atau prasangka majikan yang secara sengaja atau tidak masih meremehkan kemampuan perempuan.

image

(AP Photo/Jessica Hill, File)

Stereotip bahwa perempuan mempunyai nilai yang lebih rendah bagi perusahaan memang sulit diperbaiki karena sudah mengakar di masyarakat tapi perempuan bisa melatih strategi menegosiasikan gaji atau promosi jabatan setelah meyakinkan diri bahwa dia layak mendapatkannya.

Menurut Joan C. Williams, seorang profesor hukum dan penulis buku “What Works for Women at Work” perempuan yang meminta kenaikan gaji cenderung tidak disukai karena pandangan bahwa perempuan seharusnya sederhana dan tidak segan berkorban. Dan, tambah Williams, ketika lelaki meminta kenaikan gaji mereka sering dianggap bernegosiasi demi keluarga mereka, sehingga mungkin tampak tidak pamrih, sedangkan seorang perempuan akan dilihat sebagai sombong dan mementingkan diri sendiri.

Sementara untuk mengatasi kurangnya pendapatan karena menunaikan tugas sebagai ibu, pemerintah bisa membantu dengan membuat UU yang mengharuskan perusahaan memberi cuti melahirkan tanpa potongan gaji atau pergeseran posisi dan memberi subsidi untuk penitipan anak seperti yang dilakukan pemerintah Swedia.

Sejumlah negara bagian di Amerika telah memberlakukan UU Kesetraan Upah. California, misalnya, menerapkan salah satu UU yang menuntut agar perusahaan membuktikan bahwa mereka membayar perempuan dan laki-laki dengan upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. Tapi proposal undang-undang itu di tingkat federal, yang disebut Paycheck Fairness Act, telah berulang kali terhenti di Kongres.

Sementara menunggu Kongres bertindak, Sarah Fleisch Fink dari National Partnership for Women and Families (NPWF) menyarankan agar perusahaan turun tangan dengan mengaudit diri sendiri dan melihat apakah ada diskriminasi gaji yang mungkin tidak mereka sadari keberadaannya.

Adriana Sembiring

Washington D.C.  10 April 2017

Equal Pay Day the lilly ledbetter fair pay act equal pay act

Keterlibatan Putri Presiden Amerika di Gedung Putih

Media berita dan media sosial sama-sama heboh membahas peran Ivanka Trump yang konon begitu besar mulai dari masa kampanye sampai ayahnya, Donald Trump, terpilih menjadi presiden Amerika. Apa lagi setelah baru-baru ini dikabarkan putri sulung Trump ini diberi kantor di West Wing Gedung Putih dan akses ke informasi rahasia meskipun dia bukan pegawai pemerintah federal.

Berbeda dengan suaminya,  Jared Kushner, yang menjabat sebagai penasihat senior presiden, Ivanka Trump tidak akan memiliki jabatan resmi. Pasangan ini tidak menerima gaji dan katanya Ivanka akan berperan sebagai ‘mata dan telinga’ ayahnya seperti ketika bekerja sebagai wakil direktur eksekutif untuk Trump Organization.

Apakah benar keterlibatan putri presiden di Gedung Putih tidak pernah seperti ini sebelumnya dalam sejarah Amerika?

image

Sebelum melihat sejarahnya, mungkin saya kemukakan dulu beberapa hal yang menjadi sorotan media, bahkan memicu keprihatinan, para pakar, pengamat, maupun masyarakat awam Amerika tentang keterlibatan Ivanka dalam urusan Gedung Putih. Sebelumnya juga sempat muncul berbagai spekulasi bahwa Ivanka akan berfungsi sebagai ibu negara di Gedung Putih.

Keterlibatan Ivanka ini tidak lepas dari perdebatan lama tentang perlunya batas-batas yang tegas antara kegiatan-kegiatan politik dan bisnis keluarga Trump guna menghindari kemungkinan terjadinya konflik kepentingan, pelanggaran Undang-undang anti nepotisme tahun 1967 dan pelanggaran kode etik, mengingat dia tidak tak pernah disumpah untuk jabatan publik di kantor kepresidenan AS.

Sejak ayahnya memenangkan Gedung Putih, Ivanka sering menghadiri berbagai pertemuan tingkat tinggi ayahnya, termasuk pertemuan tertutup Trump dengan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, 17 November 2016,  di mana Ivanka menuai kecaman pedas karena perusahaannya sedang menegosiasikan perjanjian lisensi dengan perusahaan milik pemerintah Jepang. Sejak itu dia mengaku sudah melepaskan tanggung jawab manajemen perusahaannya kepada sebuah perwalian yang independen.  Tapi seperti ayahnya, Ivanka masih menerima uang keuntungan dari perusahaannya.

Setelah itu pada 15 Februari 2017, Ivanka menghadiri pertemuan kenegaraan ayahnya dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih dan kemudian menghadiri pertemuan kenegaraan Trump dengan PM Kanada Justin Trudeau dan pertemuan baru-baru ini dia malah duduk di sebelah Kanselir Jerman Angela Merkel.

image

Komentator politik ABC News, Cokie Roberts, yang telah menulis beberapa buku tentang peran perempuan dalam pembangunan Amerika Serikat dan dalam pemerintahan sebelumnya, mengatakan bahwa Ivanka Trump bukanlah putri presiden pertama yang berperan dalam pemerintahan ayahnya tapi peran mereka mungkin belum pernah sebesar itu.

Roberts merujuk pada putri Presiden Amerika kelima James Monroe yang menjalankan tugas-tugas ibu negara dari tahun 1817 sampai 1825. Eliza Monroe Hay memiliki peran publik yang cukup besar dalam pemerintahan ayahnya karena sang ibu yang sakit-sakitan.

Doug Wead, penulis buku “Game of Thorns: Inside the Clinton-Trump election of 2016,” menunjukkan bahwa Martha Johnson, putri Presiden Andrew Johnson, banyak melakukan tugas-tugas ibu negara untuk ayahnya yang menghadapi proses pemakzulan menjelang tahun 1868.

Ibunya sakit-sakitan sehingga Martha mengambil alih peran ibu negara dan menciptakan berbagai protokol di Gedung Putih yang ternyata masih berlaku sampai hari ini. Kabarnya dia juga berani berkunjung ke Capitol Hill untuk melobi alokasi dana.

Sebelum Ivanka, putri presiden yang paling berpengaruh dalam pemerintahan ayahnya mungkin Alice Roosevelt Longworth dalam masa kepresidenan ayahnya dari tahun 1901 sampai 1909.

image

Menurut majalah Politico, Presiden Theodore Roosevelt menjadikan putrinya sebagai aset politik pada tahun 1905 ketika dia mengirim “Princess Alice” ke Asia untuk lawatan 4 bulan. Sebagai utusan ayahnya, Alice membantu membuka jalan bagi KTT di Portsmouth, New Hampshire, untuk mengakhiri Perang Rusia-Jepang. Untuk upaya diplomatik tersebut, yang membawa Amerika ke panggung internasional sebagai negara paling berpengaruh di dunia, Presiden Roosevelt menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun berikutnya.

Melihat sekilas sejarahnya ternyata banyak juga putri presiden Amerika yang berperan besar di East Wing, yaitu bagian Gedung Putih di mana ibu negara berkantor, tetapi tidak banyak yang berkantor di West Wing, apalagi dengan pengaruh besar seperti Ivanka Trump.

Seperti diketahui, lokasi kantor resmi Presiden AS berada di West Wing. Di bagian yang juga disebut Executive Office Building ini terdapat Oval Office, Cabinet Room, Situation Room, dan Roosevelt Room yang biasa digunakan sebagai ruang pertemuan Presiden AS dengan tamu-tamu pentingnya.

Mungkin perlu juga kita menilai anak-anak calon presiden yang sudah dewasa sebelum mencoblos namanya pada hari pemilu mengingat potensi peran mereka dalam pemerintahan sang ayah.

Adriana Sembiring

Washington D.C.  27 Maret 2017

Putri presiden AS west wing east wing gedung putih ivanka trump

Musim Sakura Ini, Ibu…

Ibuku sayang, apa kabar? Semoga sehat selalu ya, seperti halnya aku di sini. Apakah ibu sempat mengikuti acara America Now di Radio Sonora Rabu lalu? Kami sempat membahas tentang kabar terbaru bunga sakura lho, yang di sini dikenal sebagai cherry blossom. Tak lama memang, karena kesempatannya baru muncul pada penghujung acara. Itu sebabnya kutulis surat ini, Bu, untuk bercerita lebih banyak tentang musim sakura kali ini.

Masih teringat, ketika persis setahun lalu mengunjungiku, Ibu tak sempat  berlama-lama memandangi sakura. Padahal aku tahu persis, Ibu sangat senang dan betah berlama-lama memandangi tanaman dan bunga-bunga yang indah. Memang hanya dua macam tempat yang selalu menarik perhatian Ibu: taman dan kebun, serta toko buku. O iya, Ibu pun tak sempat mengikuti berbagai acara di Ibu Kota untuk menyambut mekarnya sakura. Kesibukanku ketika itu malah membuatku lupa bercerita banyak tentang sakura. Oke, sekarang saja ya, kuceritakan serba serbi sakura di Washington DC.

Ibu, ketika Siska, penyiar Sonora itu menanyai aku dan Adri di ruang siar VOA tentang kabar terbaru sakura, hu hu… rasanya aku mau menangis. Aku belum tahu apakah tahun ini bisa menyaksikan bunga-bunganya merimbun berbarengan. Bagaimana bisa?

Sebetulnya Maret adalah bulannya bunga-bunga mulai bermekaran. Banyak orang sudah menunggu-nunggu untuk menyaksikan warna-warni bunga maupun pohon-pohon yang rimbun, bukan sekadar pohon, batang, dahan dan ranting yang gundul tanpa daun. Dan pohon-pohon sakura yang memamerkan bunga-bunganya secara serempak adalah salah satu atraksi yang paling banyak mengundang wisatawan di kawasan sekitar Tidal Basin, danau buatan di Washington DC, pada bulan Maret dan April.

image

TIDAL BASIN - Pohon-pohon sakura dengan bunga yang rimbun di tepian danau buatan Tidal Basin di Washington DC, sekiranya mekar serempak seperti tampak pada tahun 2016 lalu. (Foto: Tito Sidharta)

Keep reading

voaamericanow America Now sakura cherry blossom National Cherry Blossom Festival tidal basin sonoranetwork washington dc

Sehari Tanpa Perempuan, Pro dan Kontra

Aksi “A Day Without a Woman” atau “Sehari Tanpa Perempuan” digelar Rabu lalu bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional oleh kelompok yang menyelenggarakan Women’s March Januari lalu.

Mereka mengajak perempuan di seluruh dunia untuk bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender, keadilan dan hak-hak asasi perempuan serta semua orang yang tertindas karena gendernya, melalui demonstrasi solidaritas ekonomi satu hari. Para perempuan Amerika diajak untuk libur sehari dari pekerjaan yang dibayar maupun tidak dibayar, tidak berbelanja selama sehari dan mengenakan baju merah sebagai tanda cinta dan pengorbanan, warna energi dan aksi. “Sehari Tanpa Perempuan” ini pada dasarnya adalah aksi mogok sehari untuk menunjukkan kekuatan ekonomi mereka.

image

Women participate in International Women’s Day Protest in Washington, D.C. on March 8, 2017. (Photo: E. Sarai / VOA)

Menurut sebuah studi oleh Center of American Progress, jika semua perempuan Amerika yang bekerja di luar rumah libur sehari, produk domestik bruto Amerika akan terpangkas sampai $21 miliar untuk hari itu saja. Biro Sensus AS memang menyatakan lebih dari 47 persen angkatan kerja adalah perempuan.

Namun perempuan di Amerika masih terus dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, mendapat 80 sen untuk setiap dolar upah yang diterima laki-laki. Perempuan mengalami ketidakadilan yang lebih besar, lebih rentan terhadap diskriminasi, pelecehan seksual, dan jaminan kerja yang tidak jelas.

Walaupun tujuannya mulia, strategi “Sehari Tanpa Perempuan” ini ternyata mengundang banyak kecaman dari kalangan konservatif di Amerika yang menganggap aksi mogok ini tidak jelas tujuannya dan mementingkan diri sendiri, dan hanya untuk perempuan kaya.

Keep reading

a day without a woman Sehari Tanpa Perempuan hari perempuan internasional international women's day

“Tambah Usia, Banyak Cerita”


Mungkin teman-teman bertanya-tanya dengan judul di atas. Apa kaitannya dengan topik America Now, acara interaktif radio VOA Indonesia dengan radio Sonora, pekan ini? Memang tidak ada. Judul di atas, “Tambah Usia, Banyak Cerita” (many years, many stories) adalah tagline atau slogan dalam rangka 75 tahun usia Voice of America, VOA. Nah, kali ini saya ingin berbagi cerita dan gambar menyambut ulang tahun ke-75 VOA, yang perayaannya berlangsung Kamis 2 Maret lalu.

image

Meski baru sebentar bergabung, saya bangga bisa ikut menjadi bagian dari VOA dalam perjalanan usianya yang sudah cukup panjang. Ya, VOA mengudara untuk pertama kalinya pada 1 Februari 1942 melalui radio gelombang pendek. Siaran pertama berdurasi 15 menit ini dipancarkan ke Eropa untuk menangkis propaganda Nazi, sekitar tujuh minggu setelah Amerika resmi terjun ke kancah Perang Dunia ke-2.

Ketika itu, wartawan Amerika William Harlan Hale mengatakan, “Inilah suara yang disiarkan dari Amerika. Hari ini, dan pada jam yang sama setiap hari mulai sekarang, kami akan menyampaikan kepada Anda tentang Amerika dan perang. Beritanya mungkin baik atau buruk. Namun kami akan menyampaikan kebenaran.”

Keep reading

voa75 manyyearsmanystories tambahusiabanyakcerita voaamericanow America Now Piagam VOA William Harlan Hale Gerald Ford

Ketika Segalanya Dipolitisasi di Amerika

Walaupun penting bagi kehidupan bersama dan bernegara, politik hanyalah salah satu aspek kehidupan. Sebagian besar aspek kehidupan pribadi kita, termasuk keluarga, pertemanan, hiburan, dan ibadah, sebaiknya jauh dari politik dan campur tangan pemerintah. Kalaupun ada, campur tangan pemerintah hendaknya minimal saja, hanya untuk kesejahteraan bersama. Ini pendapat saya. Bagaimana menurut Anda?

Bagi orang yang berkarier di Washington D.C. tentu isu politik sudah menjadi menu pembicaraan sehari-hari. Apalagi sebagai orang media dengan kantor di seberang gedung kongres, Capitol Hill.

Selama masa kampanye pilpres Amerika tahun lalu, saya banyak terlibat dalam debat politik, debat sehat untuk membuka wawasan dan memahami argumentasi pihak lawan. Karena belum mengakar pada salah satu dari kedua partai utama di Amerika, saya biasa dan suka mengambil posisi sebagai lawan teman debat saya. Saya jadi banyak belajar tentang Partai Demokrat dan Partai Republik.

image

Pendukung Hillary Clinton dan pendukung Donald Trump berdampingan membawa poster dukungan masing-masing dalam parade Hari Pahlawan di Chappaqua, New York. (Foto: Dok)

Kampanye pilpres yang lalu memang diakui banyak orang sebagai kampanye paling kotor dan paling memecah belah rakyat Amerika. Tapi setelah Donald Trump terpilih dan Hillary Clinton langsung mengakui kekalahannya, maka yang terbayang di benak saya adalah masa transisi yang damai dan kehidupan kami akan kembali normal, terbebas dari pertikaian politik yang begitu sengit.

Saya membandingkan dengan persaingan ketat dalam pilpres 2000 antara George Bush dan Al Gore, yang dimenangkan Bush, walaupun perhitungan suara nasional menunjukkan Gore unggul.

Apa daya keinginan saya tak terwujud.

Dendamnya masih terus membara, tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan situasi malah memburuk, memperlihatkan jarak yang melebar antara Republik dan Demokrat dan mengerasnya posisi-posisi ideologis yang menurut para sosiolog dan ilmuwan politik meningkatkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan akan membuat kompromi politik semakin sulit.

Pelantikan presiden sendiri sudah langsung didemo besar-besaran, malah dijadikan ajang politik bagi banyak kelompok, mulai dari pendukung hak-hak perempuan, LGBT, imigran, keadilan rasial sampai perubahan iklim. Padahal upacara itu seharusnya menjadi ajang untuk merayakan persatuan setelah masa pemilu yang memecah-belah dan untuk menunjukkan rasa hormat bagi institusi kepresidenan.

image

Suasana ‘Women’s March’ di Washington dari atap gedung Voice of America di Washington, DC 21 Januari 2017(B. Allen / VOA)

Sebenarnya banyak hal sudah biasa dipolitisasi di Amerika. Informasi atau satu peristiwa sudah sering dijadikan bahan perdebatan politik atau posisi yang bertentangan antar partai yang dengan mudah menyebar berkat sosial media sekarang ini.  Orang-orang yang terlibat rasanya tidak begitu peduli dengan fakta, objektivitas atau dampaknya bagi tatanan masyarakat.

Dalam isu seperti ras, agama, keadilan sosial dan ekonomi, tampaknya orang Amerika tak bisa lepas dari lensa politik. Dalam menalar isu-isu tersebut, mereka sepertinya bergantung pada doktrin partai, baik yang tak kentara maupun yang terang-terangan.

Tapi setelah Presiden Trump menjabat, dan mungkin karena gayanya dalam memerintah, pertikaian antara kelompok yang berbeda ideologi di Amerika semakin ganas dan cakupannya semakin luas.

Sekarang politik ada di mana saja kapan saja di Amerika.

Bayangkan, beberapa toko di daerah saya sampai harus melapor ke polisi karena di-bully oleh orang-orang yang tidak senang dengan pandangan politiknya. Tapi memang agak janggal juga melihat pemilik toko memajang sikap politiknya di depan toko.

image

Sejumlah merek terkenal seperti L.L. Bean, Target dan New Balance, menghadapi ancaman boikot karena salah seorang pejabatnya mendukung Trump. Sementara Patagonia, yang menjual pakaian dan perlengkapan untuk kegiatan mendaki gunung, olahraga salju dan lain-lain, menggunakan toko-tokonya untuk kampanye “Vote Our Planet,” upaya mengurangi dampak perubahan iklim bagi lingkungan.

Lain lagi dengan, Phil Boyle, pemilik jaringan toko buku komik Coliseum Of Comics di Florida. Dia marah dan muak dengan politisasi isi buku komik dan mengancam akan berhenti menjual buku komik itu jika mengadu partai politik dengan cerita kekerasan.  

Yang lebih kasihan kasus Nordstrom. Toko serba ada kelas atas itu memutuskan untuk tidak lagi memesan produk mode Ivanka Trump karena penjualan selama ini lemah. Keputusan bisnis itu langsung dipolitisasi oleh presiden dengan cuitan ini.

image

Capeklah mengikutinya. Rasanya tidak sehat.

Mau cari hiburan dengan menonton ajang penghargaan musik dan film malah jadi miris karena diwarnai isu-isu politik yang bikin kesal.

Pada saat menerima penghargaan Cecil B DeMille Award Januari lalu penghargaan Golden Globe, Meryl Streep menjelma menjadi aktor politik, mengecam presiden terpilih AS Donald Trump.

Penyerahan Screen Actors’ Guild dan People’s Choice Awards setelah itu juga diisi pidato-pidato kecaman terhadap keppres yang melarang sementara migrasi dari 7 negara yang mayoritas Muslim.

Tidak heran kalau banyak orang Amerika deg-degan ketika menunggu Super Bowl ke-51,  pertandingan sepak bola Amerika antara tim New England Patriots dan Atlanta Falcons. Takut kalau ajang pertandingan olah raga paling terkemuka, yang seharusnya tidak memandang perbedaan ideologi itu, dipolitisasi.

image

Walaupun Lady Gaga, pengisi acara hiburan paruh waktu yang biasanya spektakuler, tidak terjerat dalam isu politik yang kontroversial dan merangkul semua golongan, jutaan penonton sudah menyaksikan iklan-iklan yang dibuat khusus untuk Super Bowl yang bernada politis dan dianggap memecah belah.

Sekarang saya harus hati-hati kalau berkomentar atau berdebat politik karena suasana yang semakin panas membuat banyak orang dengan mudah mencap kita lawan atau kawan. Seolah-olah tidak ada lagi orang yang netral, yang tidak memihak atau tidak tahu mau memihak siapa.

Mungkin kita perlu ingat kata-kata mutiara: segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik.

Politik memiliki tempat, tetapi ketika berlebihan, ketika pemikiran kita dan banyak aspek kehidupan kita dicemari isu politik, maka masyarakat menjadi tidak sehat dan sejahtera.

Ironis kalau mengingat politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Adriana Sembiring

Washington D.C.  10 Februari 2016

voaamericanow super bowl nordstrom golden globes politisasi lady gaga

Merayakan Imlek di Washington D.C.

Saya baru merasakan langsung kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek setelah bermukim di Fairfax, Virginia, yang letaknya sekitar 20 kilometer dari Washington D.C.

Di kota-kota Amerika dengan komunitas Asia yang besar, terutama Tionghoa, Chinese New Year Parade sudah menjadi acara tahunan yang ditunggu-tunggu karena biasanya megah, menampilkan keragaman seni dan budaya yang menarik, mulai dari pakaian warna-warni, musik, tari, lampion dan ornamen unik lainnya, seni bela diri dan akrobat, marching band, dan tentu saja barongsai dengan genderang yang meriah, yang di sini disebut Dragon and Lion Dance.

Ketika tinggal di Indonesia sampai tahun 1995, saya belum pernah melihat parade Imlek, apa lagi yang semeriah di China Town, Pecinan Washington D.C.

image

Selain parade di kota besar seperti DC, New York, Boston, Los Angeles, Seattle dan San Francisco, kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunitas kecil juga tidak kalah menariknya, bahkan sejak 14 Januari lalu sudah ada acara-acara untuk menyambut tahun ayam, tahun 4715 yang jatuh pada 28 Januari 2017 ini.

Setiap tahun, Luther Jackson Middle School di Falls Church (sekitar 15 menit dari rumah saya) menjadi tempat perayaan Tahun Baru China atau Lunar New Year yang diselenggarakan oleh Asian Community Service Center. Para siswa biasanya diminta mengenakan pakaian yang berbau Asia dan mengikuti pawai barongsai mengelilingi sekolah mereka.

Anak-anak dan masyarakat sekitar yang datang tahun ini dihibur dengan pertunjukan musik dan tari dari China, India, Thailand, Indonesia dan Vietnam. Setelah itu mereka mengikuti permainan khas Asia, membuat kerajinan tangan dan mencicipi makanan Asia yang lezat. Yang tak kalah seru buat anak-anak sekolah itu adalah “lucky money”….angpao dalam amplop merah.

image

Walikota Rockville, Maryland  dan Council and Asian Pacific American Task Force di kota itu bekerjasama untuk menggelar pertunjukan multi-generasi, pameran dan mengajak anak-anak melakukan kegiatan budaya dan mencicipi makanan-makanan khas Imlek.

Dalam acara gratis ini anak-anak Indonesia yang tergabung dalam kelompok IKPA (Indonesian Kids Performing Arts) menampilkan lagu-lagu rakyat dari Indonesia bagian timur bersama kelompok budaya dari negara-negara Asia lainnya.

image

Smithsonian American Art Museum merayakan Lunar New Year 2017 dengan mengundang masyarakat ikut membantu “membangunkan singa” dan memulai tahun ayam dengan musik, kegiatan kerajinan yang menyenangkan, pertunjukan tradisional yang disajikan dalam kemitraan dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat China.

Pada hari yang sama, masyarakat Vietnam merayakan tahun barunya ‘Tet Celebration’ di Eden Center, kompleks pertokoan yang bernuansa Saigon, dengan acara pertunjukkan seni.

Di Musium Tekstil Washington DC, masyarakat juga bisa mengikuti acara Okinawa Lunar New Year, yang merayakan tahun baru sesuai tradisi Kerajaan. Demonstrasi karate selalu menjadi sajian yang ditunggu-tunggu mengingat Okinawa adalah kampung halaman seni bela diri tersebut. Acara grastis sepanjang hari pertama tahun baru ini digelar oleh Okinawa Kai of Washington, D.C., dalam kerjasama dengan pemerintah Okinawa.

Perayaan Imlek di Amerika juga berkaitan erat dengan pesta perayaan datangnya musim semi yang berakhir pada bulan purnama, 15 hari kemudian. Acara yang disebut Lantern Festival ini kalau di Indonesia saya ingat istilahnya Cap Go Meh.

Menurut Asian Community Service Center, penyelenggara utama festival musim semi di daerah saya, tanggal 4 Februari adalah hari istimewa karena merupakan awal musim semi menurut kalender lunar, yang diyakini waktunya semua bangun dan nasib buruk rakyat diusir.

Pada tanggal itu, masyarakat sekitar Washington D.C bisa menikmati perayaannya di Kennedy Center yang menampilkan akrobat Beijing dan musisi China. Pengunjung bisa ikut belajar kaligrafi dan rias wajah/pakaian Tionghoas, dll.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Washington D.C. rasanya bukan hanya untuk keluarga keturunan Tionghoa saja, tetapi sudah menjadi tontonan spektakuler bagi masyarakat umum. Masyarakat kota ini banyak yang saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, ucapan selamat dan semoga banyak rezeki, bahkan kepada teman non-Tionghoa.

Walaupun sudah menjadi migran di Amerika sejak tahun 1800-an, dan kebanyakan sudah berasimilasi dengan budaya barat, komunitas Tionghoa tentu masih mengisi perayaan tahun baru ini dengan tradisi penting yang dibawa nenek atau orang tua mereka, memahami makna ritual yang mereka lakukan, dan pada akhirnya, membuat mereka bangga sebagai orang Tionghoa.

Gong Xi Fa Cai!!

Adriana Sembiring

Washington D.C.  5 Februari 2017

imlek2017 ikpa chinese new year parade