America Now adalah program interaktif VOA Indonesia dengan Sonora FM 92 Jakarta & Sonora Network yang disiarkan setiap Rabu malam, pukul 20.00-21.00 WIB, dipandu oleh penyiar VOA Adriana Sembiring dan Utami Hussin.
Selain menyimak isu-isu hangat dan perkembangan terbaru di Amerika, para pendengar juga mendapat kesempatan untuk bertanya dan menjawab kuis berhadiah (VOA menyediakan 3 bingkisan menarik bagi yang beruntung.)
Blog ini diangkat dari salah satu isu terhangat America Now.
Banyak
orang Amerika tahu Bali, tapi kalau ditanya soal Indonesia mungkin baru dengar
sekali dua kali. Malah kadang ada yang mengira Bali dan Indonesia adalah dua
negara berbeda.
Hal
itulah yang menjadi alasan pemerintah Indonesia menggencarkan promosi
pariwisata “Wonderful Indonesia” di Washington, D.C.. Selama bulan Oktober ini,
visual-visual cantik destinasi pariwisata Indonesia dipajang di transportasi
publik – dari kereta dan bus metro, bus tingkat, dan sistem penyewaan sepeda.
Kampanye
“Wonderful Indonesia” dipasang di transportasi publik Washington DC di kawasan
yang dekat dengan kantor IMF dan World Bank. (Foto: KBRI Washington DC)
Kampanye
ini juga dilakukan di markas besar IMF dan World Bank. Dua lembaga ini akan
rapat tahunan di Bali, Oktober tahun depan. Pemerintah Indonesia menarget
kalangan dua institusi global ini untuk juga berlibur ketika datang untuk rapat
nanti. Mereka yang bekerja di lembaga ini pasti memiliku daya beli yang sangat
tinggi.
Ada
tujuh lokasi yang ditawarkan: Wakatobi, Bunaken, Raja Ampat, Toba, Jakarta,
Lombok, dan tentu saja Bali. Tempat-tempat ini dipilih karena keunikannya.
Wakatobi, Bunaken, dan Raja Ampat, sebagai misal, adalah tiga dari sejumlah
lokasi selam terbaik di dunia. Sesuatu yang menurut survey lebih indah
ketimbang yang ada di Thailand atau Vietnam, tapi tetap kalah popularitasnya.
Saya
bisa menebak-nebak Thailand dan Vietnam lebih populer karena sejumlah hal.
Vietnam punya kedekatan sejarah dengan Amerika Serikat. Thailand sudah lebih
dulu masuk film seperti Kepulauan Koh Phi Phi dalam film The Beach (2000) dan
Kota Bangkok dalam film Hangover 2 (2011). Dan mungkin, Indonesia identik
sebagai negara dengan penduduk muslim yang besar sehingga menjadi berbeda
dibanding kebanyakan negara Asia Tenggara.
Hal
lainnya yang berpengaruh terhadap pengetahuan orang Amerika terhadap negara
lain adalah populasi diasporanya. Orang Thailand di Amerika mencapai 1,3 juta
(2015) dan Vietnam mencapai 2 juta (2015). Bandingkan dengan orang Indonesia
yang tak sampai 100 ribu (2010).
Kondisi
ini juga mungkin berhubungan dengan kenapa restoran Thailand dan Vietnam bisa
ditemukan di banyak tempat di Amerika (bahkan di seberang apartemen saya di
Arlington, Virginia, ada 1 restoran Thailand dan 1 restoran Vietnam). Tapi
kalau restoran Indonesia sangat sedikit di seluruh AS, bahkan di Washington
D.C. saja tidak ada.
Restoran
Thaiphoon (Thailand) dan Saigon-Saigon (Vietnam) di Pentagon Row, Arlington,
selalu ramai pengunjung. (Foto: Google Maps)
Indonesia
bukannya tidak signifikan bagi AS. Indonesia adalah mitra utama AS di Asia
Tenggara dalam perdagangan, kontra-terorisme, dan juga dialog lintas-agama.
Tapi itu kan terjadi di kalangan pemerintah dan pebisnis. Bagi orang-orang
biasa yang ingin berwisata, itu semua tidak ada artinya.
Upaya
memperkenalkan Indonesia ke publik Amerika memang perjalanan panjang. Namun itu
semua patut dicoba dengan kerja keras. Semoga semakin banyak turis AS ke
Indonesia. Kita doakan yang terbaik!
Beberapa minggu lalu, saya mendapat
undangan menghadiri wisuda dari seorang sahabat yang baru datang dari
Indonesia. Ia berkunjung ke Amerika untuk beberapa keperluan, tetapi yang utama
adalah menghadiri wisuda putrinya, yang baru saja lulus meraih gelar S-1 di
University of Maryland.
Pada hari yang sama, saya juga
diajak seorang teman untuk menghadiri syukuran atas kelulusan putra seorang
kenalan. Masih pada bulan ini juga, saya melihat beberapa teman memasang
foto-foto di laman Facebook yang memancarkan kebahagiaan mendampingi putra
putri mereka wisuda. Lalu saya ingat-ingat lagi tanggal wisuda anak sulung saya
tiga tahun silam. Ternyata tahun ini memang sudah sampai pada musimnya wisuda.
Wisuda, yang menandai berakhirnya
masa kuliah, biasanya dilakukan pada penghujung semester. Pada semester musim
dingin, wisuda berlangsung pada bulan Desember.
Sedangkan untuk semester musim semi, wisuda dilangsungkan pada bulan
Mei-Juni. Karena biasanya banyak mahasiswa lulus pada semester musim semi, tak
heran acara wisuda pada musim ini pun dihadiri oleh lebih banyak orang.
Yang jelas, setelah beberapa kali
menghadiri wisuda di dalam dan di luar negara bagian tempat saya tinggal, saya
melihat setiap acara wisuda memiliki kekhasan tersendiri. Baik itu di perguruan
tinggi besar maupun kecil, upacara yang mereka gelar tentu bakal menjadi
kenangan istimewa bagi para alumninya.
Penuh sesak - Tak satupun kursi kosong terlihat di stadion football di Liberty University, Lynchburg, Virginia, sewaktu para wisudawan-wisudawati dan hadirin menyimak pidato wisuda yang disampaikan Presiden Donald Trump. (Foto: C. Presutti/VOA)
Nah, apa yang menarik dari wisuda di
Amerika? Berikut beberapa di antaranya.
Benarkah kebebasan berpendapat terancam di kampus-kampus
Amerika?
Pertanyaan ini menjadi
pembahasan dalam dialog interaktif VOA dengan Sonora Networks minggu lalu
setelah muncul berbagai laporan tentang kekerasan yang mewarnai demonstrasi di
sejumlah kampus seperti UC Berkeley, Middlebury College, Claremont Colleges dan
California State University di Los Angeles.
Unjuk rasa mahasiswa, yang
banyak juga secara damai ini, ditujukan untuk menghadang atau memprotes pidato-pidato yang mereka pandang kontroversial
di kampus mereka.
Selain soal keamanan, unjuk
rasa dengan kekerasan itu membuat para pendukung kebebasan berpendapat prihatin
karena dalam
sejarahnya, universitas di Amerika selalu mendorong perdebatan terbuka. Mereka bahkan mengizinkan pidato tokoh-tokoh
kontroversial sebagai salah satu wacana pendidikan, bahkan pembicara yang dipandang
bisa memicu kebencian.
Pengunjuk rasa menyaksikan kobaran api di Sproul Plaza
saat berdemonstrasi menentang pidato yang dijadwalkan oleh editor Breitbart News
Milo Yiannopoulos di kampus Universitas California di Berkeley, 1 Februari
2017.
Aksi-aksi penolakan ini
tampaknya sejalan dengan survei YouGov
yang menunjukkan 43 persen mahasiswa ingin kampus terbebas dari
diskriminasi walaupun itu berarti akan ada pembatasan terkait
pembicara dan topik diskusi di kampus mereka. Menurut survei tahun 2015 ini, prioritas kampus
bukan hanya melindungi hak mutlak untuk kebebasan berbicara.
Tapi banyak yang berpendapat
bahwa pihak sekolah atau perguruan tinggi harus melakukan lebih banyak untuk
melindungi para pembicara yang sudah diundang untuk berbicara.
Will Creeley, wakil presiden advokasi hukum di Foundation for Individual Rights
in Education (FIRE), termasuk orang yang
menyalahkan pihak kampus karena menyerah pada tuntutan para demonstran dengan
kekerasan itu dan mengemukakan kepada VOA bahwa insiden itu menunjukkan kurangnya pengetahuan
tentang UUD yang melindungi kebebasan berbicara di AS.
Yang cukup mengherankan
adalah alasan bahwa ujaran kebencian juga dilindungi First
Amendment atau Amandemen Pertama UUD
AS.
Memang ada beberapa jenis ujaran
yang tidak dilindungi oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS. Tapi pengecualiannya
sempit dan tidak ada hubungannya dengan “ucapan kebencian” seperti
yang digunakan secara konvensional maupun semua pernyataan yang menyinggung
perasaan orang lain dari agama atau ras yang berbeda.
Pengecualian diberikan untuk “fighting
words” - penghinaan pribadi yang langsung
ditujukan kepada orang tertentu, yang kemungkinan besar akan segera memicu
perkelahian.
Menurut Will
Creeley, Mahkamah Agung AS cukup
bijak ketika membatasi kategori pidato yang tidak dilindungi itu ke dalam sekumpulan
pengecualian yang sempit, termasuk ancaman sesungguhnya (true
threats), intimidasi, hasutan, dan
kecabulan. Kampus-kampus yang menerima dana federal memiliki kewajiban hukum
untuk melarang pelecehan yang diskriminatif tapi pengecualian ini memiliki
definisi hukum yang dibuat dengan hati-hati. Definisi itu rasanya cukup rumit
untuk dipahami orang awam.
“Hate speech”juga tidak
memiliki makna yang tegas dan tetap menurut undang-undang AS, kata Eugene
Volokh, dosen di UCLA School of Law.
Dengan ketidakjelasan terkait
definisi ujaran kebencian dan apa saja yang dilindungi konstitusi sebagai
kebebasan berpendapat ini, banyak kalangan tertentu dengan mudahnya melontarkan
ujaran kebencian, penistaan dll. di kampus tanpa takut akan konsekuensinya.
Lebih dari 30 kampus di AS,
termasuk University of Texas, University of Maryland,
University of Hartford di Connecticut, University of Rochester di New York dan Auburn University di Alabama,
akhir-akhir ini menjadi target kelompok-kelompok supremasi kulit putih yang
mengedarkan pamflet-pamflet yang menyatakan “America
is a white nation.”
Pamflet
itu juga mengajak para mahasiswa kulit putih untuk melaporkan orang-orang yang
mereka duga penduduk gelap kepada dinas imigrasi karena mereka kriminal.
Aksi
ini rupanya tanggapan atas kebijakan universitas mereka untuk melindungi
hak-hak sipil mahasiswa yang tidak memiliki dokumen imigrasi.
Tren-tren
berbahaya di perguruan tinggi Amerika ini mendorong legislator di beberapa
negara bagian untuk membuat UU baru yang lebih tegas dan jelas terkait kebebasan
berbicara di perguruan tinggi.
Legislator
dari kedua partai utama di Tennessee baru saja meloloskan RUU yang melindungi kebebasan
berpendapat para
mahasiswa di kampus. Pihak
universitas juga tidak boleh begitu saja membatalkan pembicara yang sudah diundang
hanya karena diprotes pihak tertentu.
UU tersebut melarang
dibentuknya “free speech zones,” yang
digunakan pejabat universitas untuk membatasi pidato-pidato kontroversial di
tempat-tempat tertentu saja. Negara bagian Virginia, Missouri, Arizona, dan Colorado sudah
mengadopsi aturan ini sejak April lalu.
Di Michigan, dua RUU sedang digarap di Senat negara bagian itu untuk memberi hukuman yang berat
kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri yang melanggar hak kebebasan berbicara
di kampus. Selain itu, katanya definisi pelanggaran itu sendiri juga akan di
perjelas. RUU serupa juga sedang diajukan di California.
Banyak juga seruan untuk
mempertahankan First Amendment sebagaimana yang dimaksud para pendiri Amerika Serikat.
Apalagi sempat muncul wacana bahwa Presiden Donald Trump ingin mengubah
amandemen yang melindungi kebebasan berbicara itu karena kesalnya dia pada
media-media yang katanya menyebar berita palsu. Kesalnya dia pada orang-orang
yang membakar bendera sebagai aksi protes.
Bagaimana mempertahankan
kebebasan berpendapat sepenuhnya tanpa merugikan pihak lain tidaklah mudah.
Sebuah selebaran terlihat di papan pengumuman dekat
Sproul Hall di Universitas California Berkeley, California. Mahasiswa yang
mengundang Ann Coulter untuk berbicara di kampus mengajukan gugatan hukum, 24
April 2017, dengan mengatakan universitas tersebut melakukan tindakan
diskriminatif terhadap pembicara konservatif dan melanggar hak para siswa untuk
kebebasan berbicara.
Masyarakat Amerika, terutama kaum
muda sepertinya perlu memahami hubungan antara apresiasi yang lebih luas
terhadap kebebasan berbicara dan bagaimana kebijakan tertentu dapat mengurangi
atau mengikis kebebasan itu secara permanen.
Dalam sebuah blog di website American
Civil Liberties Union baru-baru ini yang
berjudul “We All Need to Defend Speech We Hate,” pengacara ACLU Lee
Rowland mengemukakan
bahwa melarang atau berteriak-teriak menolak pidato yang dipandang berisi kebencian atau rasis sama saja
artinya dengan penyensoran.
Rowland mengemukakan bahwa ketika
semua orang bebas berpendapat, yang kemudian menciptakan bursa ide, maka ide
terbaik yang akan menang. Jadi yang sebenarnya dibutuhkan adalah melatih para
mahasiswa untuk benar-benar mendengarkan gagasan yang mereka benci dan
merespons dengan sebaik-baiknya.
Bila memilih penyensoran
sebagai substansi argumen, maka kita akan kalah dalam perdebatan, tambah Rowland.
Karena tak satu pun dari kita yang akan menjadi lebih bijak, lebih luas
pengetahuannya tentang berbagai hal ketika pendapat yang berbeda dibungkamkan.
Kalau meminjam istilah
perkuliahan berarti para mahasiswa itu tidak melakukan tugasnya. Nilai untuk
debat intelektualnya F.
Proses untuk melibatkan
mahasiswa dalam wacana yang produktif dan kritis bisa saja menciptakan
ketegangan dan konflik bagi banyak orang, mengingat tidak semua anggota
masyarakat kampus memandangkebebasan berbicara yang dilindungi UU itu sebagai pidato
yang baik atau produktif.
Namun, daripada mencap mahasiswa
sebagai “makhluk yang rapuh” atau memaksa institusi untuk menghukum mahasiswa
yang ingin memprotes pembicara di kampus, tentu ada pendekatan yang lebih baik,
kata Neal H. Hutchens, profesor pendidikan tinggi di University of Mississippi dan
Brandi Hephner LaBanc, wakil urusan kemahasiswaan di University of Mississippi
Jika mahasiswa mengungkapkan keberatan
terhadap pembicara kontroversial, ada baiknya mereka ditanggapi dengan serius,
kata Hutchens . Libatkan mereka dalam pembahasan tentang bagaimana
merekonsiliasi keprihatinan mereka dan komitmen institusi untuk menjunjung
kebebasan berbicara.
Isu kebebasan berbicara di
kampus biasanya dan bisa membuat mahasiswa dan pejabat kampus tidak nyaman.
Tapi ketidaknyamanan itu juga menghadirkan peluang untuk bertumbuh.
Kebanyakan orang Amerika percaya
bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mendorong perdebatan
dan untuk membantu mahasiswa menimba ilmu dari pengalaman dalam memproses dan
menanggapi pesan-pesan yang mereka anggap tidak pantas.
Dengan demikian diharapkan
semua pihak bertekad menjaga kampus agar bebas melakukan dialog yang bermakna
berdasarkan rasa saling hormat.
Bagi perempuan, topik tentang uang, berapa besar penghasilannya, berapa besar tabungannya atau berapa sewa rumahnya,
tabu untuk dibicarakan didepan umum. Untungnya
di Amerika Serikat ada satu hari yang bisa dipakai untuk mengikis keengganan
perempuan untuk berbicara soal uang, terutama tentang upah yang setara dengan
kaum lelaki.
“Equal Pay Day” memang bukan
hari besar resmi tapi hanya hari
simbolis menandai seberapa jauh ke tahun ini kaum perempuan harus bekerja untuk
mendapatkan upah yang sama dengan kaum lelaki dalam satu tahun sebelumnya.
Sebagai
perempuan yang tidak merasakan perbedaan gaji dengan kolega laki-laki saya di kantor VOA, saya menjadi bertanya-tanya mengapa Equal Pay Day masih
keras gaungnya mengingat kesetaraan upah atau Equal Pay Act sudah berlaku selama 54
tahun di Amerika?
Apalagi UU itu juga sudah
diperkuat oleh Presiden Obama dengan The Lilly Ledbetter Fair Pay Act, pada 29
Januari, 2009, legislasi pertama yang dia tanda tangani ketika memasuki Gedung
Putih. Peraturan ini mempermudah seorang perempuan untuk menggugat majikannya
jika terbukti dia mendapat gaji yang lebih kecil dibanding laki-laki dalam
pekerjaan yang sama.
Presiden Barack Obama menandatangani keppres yang
bertujuan untuk menutup kesenjangan kompensasi antar, Selasa, April 8, 2014, di
Ruang Timur Gedung Putih di Washington, dalam sebuah acara Equal Pay Day. Lilly
Ledbetter, berbaju hijau, berdiri di sebelah presiden. (AP Photo/Susan Walsh)
Equal Pay Day tahun ini diperingati
pada tanggal 4 April lalu, yang berarti perempuan harus bekerja tiga bulan lagi
ke tahun 2017 untuk menyamai pendapatan laki-laki pada tahun 2016.
Equal Pay Day memang datang
lebih cepat tahun ini (Equal Pay Day tahun 2016 jatuh pada tanggal 12 April) tapi
para advokat tidak melihatnya sebagai perubahan yang signifikan karena perbedaan
upah masih tetap besar.
National Partnership for
Women and Families (NPWF) mencatat bahwa kesenjangan rata-sata hanya berubah
satu sen, dari 79 menjadi 80 sen dari satu dolar yang diperoleh laki-laki dalam
setahun ini.
Perbedaan itu sangat besar mengingat
kira-kira setengah tenaga kerja di Amerika adalah perempuan. Secara
keseluruhan, perempuan Amerika kehilangan sekitar $ 840 miliar per tahun karena
kesenjangan itu, dan pada tingkat individu artinya perempuan bisa kehilangan
dana untuk membeli kebutuhan dapur selama satu tahun lebih.
Bayangkan dampaknya jika perempuan
ini adalah pencari nafkah tunggal atau orang tua tunggal. Keluarga ini bisa
hidup dalam kondisi yang buruk dan kekurangan gizi.
(AP Photo/Jessica Hill)
Tapi ternyata banyak juga orang
Amerika tidak percaya bahwa kesenjangan gaji ada, meskipun ekonom telah
sepenuhnya menolak kesalahpahaman itu.
Tujuh dari 10 pekerja yang
disurvei oleh situs tenaga kerja Glassdoor.com pada 2016 menunjukkan mereka
percaya lelaki dan perempuan dibayar setara oleh perusahaan mereka. Laki-laki
jauh lebih banyak yang mengatakan hal tersebut, di mana hampir 8 dari 10
setuju, dibandingkan dengan 6 dari 10 perempuan yang setuju.
Dan kalaupun mereka mengakui ada
perbedaan upah antar gender, seberapa besar kesenjangan itu masih terus
diperdebatkan.
Biro Sensus mengatakan perempuan
mendapatkan 79 sen untuk setiap dolar yang mendapatkan laki-laki, berdasarkan
gaji rata-rata pekerja penuh waktu. Tapi kalau berbicara soal upah mingguan dan
per jam, kesenjangan tidak begitu besar, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja.
Orang-orang yang mengatakan
kesenjangan upah antar gender hanya mitos mengemukakan bahwa perbedaan gaji antara
perempuan dan laki-laki jelas dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk pendidikan
formal dan keterampilan yang dipelajari pada pekerjaan melalui pengalaman
kerja.
Menurut mereka, rata-rata perempuan
memiliki pengalaman kerja lebih sedikit, perempuan mengambil waktu untuk
membesarkan anak-anak dan mereka memilih karier yang cenderung memiliki jam kerja
yang lebih fleksibel dan potensi penghasilan lebih rendah.
Selain itu, dibandingkan
dengan perempuan, kaum lelaki cenderung tertarik ke arah jurusan kuliah dengan
nilai pasar yang lebih besar. Misalnya, sekitar 80% laki-laki memilih jurusan
teknik dan ilmu komputer jurusan sementara 66% perempuan memilih jurusan
ilmu-ilmu sosial, drama, tari, pendidikan dan jurusan seni rupa.
Penelitian Warwick Economics pada
tahun 2016 menemukan bahwa bagi pekerja di bawah 40 tahun, tampaknya tidak ada
perbedaan dalam situasi di mana perempuan dan laki-laki itu memiliki pekerjaan
di mana gaji bisa dinegosiasikan; di mana kedua gender berhasil memperoleh
kenaikan gaji jika mereka memintanya. Jadi, jika para perempuan berusia 40 tahun
ke bawah ini menegosiasikan kenaikan gaji sesering laki-laki, mereka akan
mendapatkannya.
Linda Babcock, profesor
ekonomi di Carnegie Mellon University dan salah seorang pendiri organisasi “Women
Don’t Ask,” mencatat bahwa perempuan kadang-kadang dibayar lebih kecil karena
mereka tidak bernegosiasi sesering dan sepintar rekan lelaki mereka ketika membahas
gaji awal atau pun kenaikan gaji.
Kalau bisa saya simpulkan
perempuan umumnya mendapat gaji yang lebih kecil untuk pekerjaan dan jabatan yang
serupa karena tiga faktor signifikan, yaitu penalti yang dihadapi perempuan
karena menjadi seorang ibu, kurangnya kemampuan perempuan untuk menegosiasikan
gaji, dan bias atau prasangka majikan yang secara sengaja atau tidak masih meremehkan
kemampuan perempuan.
(AP Photo/Jessica Hill, File)
Stereotip bahwa perempuan
mempunyai nilai yang lebih rendah bagi perusahaan memang sulit diperbaiki karena
sudah mengakar di masyarakat tapi perempuan bisa melatih strategi
menegosiasikan gaji atau promosi jabatan setelah meyakinkan diri bahwa dia
layak mendapatkannya.
Menurut Joan C. Williams, seorang
profesor hukum dan penulis buku “What Works for Women at Work” perempuan yang
meminta kenaikan gaji cenderung tidak disukai karena pandangan bahwa perempuan
seharusnya sederhana dan tidak segan berkorban. Dan, tambah Williams, ketika lelaki
meminta kenaikan gaji mereka sering dianggap bernegosiasi demi keluarga mereka,
sehingga mungkin tampak tidak pamrih, sedangkan seorang perempuan akan dilihat
sebagai sombong dan mementingkan diri sendiri.
Sementara untuk mengatasi kurangnya
pendapatan karena menunaikan tugas sebagai ibu, pemerintah bisa membantu dengan
membuat UU yang mengharuskan perusahaan memberi cuti melahirkan tanpa potongan
gaji atau pergeseran posisi dan memberi subsidi untuk penitipan anak seperti
yang dilakukan pemerintah Swedia.
Sejumlah
negara bagian di Amerika telah memberlakukan UU Kesetraan Upah. California, misalnya,
menerapkan salah satu UU yang menuntut agar perusahaan membuktikan bahwa mereka
membayar perempuan dan laki-laki dengan upah yang sama untuk pekerjaan yang
sama. Tapi proposal undang-undang itu di tingkat federal, yang disebut Paycheck Fairness Act, telah berulang kali terhenti
di Kongres.
Sementara
menunggu Kongres bertindak, Sarah Fleisch Fink dari National Partnership for Women and Families (NPWF) menyarankan agar perusahaan turun
tangan dengan mengaudit diri sendiri dan melihat apakah ada diskriminasi gaji
yang mungkin tidak mereka sadari keberadaannya.
Media berita dan media sosial
sama-sama heboh membahas peran Ivanka Trump yang konon begitu besar mulai dari masa kampanye sampai ayahnya,
Donald Trump, terpilih menjadi presiden Amerika. Apa lagi setelah baru-baru ini
dikabarkan putri sulung Trump ini diberi kantor di West Wing Gedung Putih dan
akses ke informasi rahasia meskipun dia bukan pegawai pemerintah federal.
Berbeda dengan suaminya, Jared Kushner, yang menjabat sebagai
penasihat senior presiden, Ivanka Trump tidak akan memiliki jabatan resmi.
Pasangan ini tidak menerima gaji dan katanya Ivanka akan berperan sebagai ‘mata
dan telinga’ ayahnya seperti ketika bekerja sebagai wakil direktur eksekutif untuk Trump Organization.
Apakah benar keterlibatan
putri presiden di Gedung Putih tidak pernah seperti ini sebelumnya dalam
sejarah Amerika?
Sebelum melihat sejarahnya,
mungkin saya kemukakan dulu beberapa hal yang menjadi sorotan media, bahkan memicu keprihatinan, para pakar, pengamat,
maupun masyarakat awam Amerika tentang keterlibatan Ivanka dalam urusan Gedung
Putih. Sebelumnya juga sempat muncul berbagai spekulasi bahwa Ivanka akan berfungsi
sebagai ibu negara di Gedung Putih.
Keterlibatan Ivanka ini tidak
lepas dari perdebatan lama tentang
perlunya batas-batas yang tegas antara kegiatan-kegiatan politik dan bisnis
keluarga Trump guna menghindari kemungkinan
terjadinya konflik kepentingan, pelanggaran Undang-undang anti nepotisme tahun
1967 dan pelanggaran kode etik, mengingat dia tidak tak pernah disumpah untuk
jabatan publik di kantor kepresidenan AS.
Sejak ayahnya memenangkan
Gedung Putih, Ivanka sering menghadiri berbagai pertemuan tingkat tinggi
ayahnya, termasuk pertemuan tertutup Trump dengan Perdana Menteri Jepang,
Shinzo Abe, 17 November 2016, di mana Ivanka menuai kecaman pedas karena perusahaannya sedang
menegosiasikan perjanjian lisensi dengan perusahaan milik pemerintah Jepang.
Sejak itu dia mengaku sudah melepaskan tanggung jawab manajemen perusahaannya
kepada sebuah perwalian yang independen. Tapi seperti ayahnya, Ivanka masih menerima
uang keuntungan dari perusahaannya.
Setelah itu pada 15 Februari 2017, Ivanka menghadiri pertemuan kenegaraan ayahnya dengan PM Israel
Benjamin Netanyahu di Gedung Putih dan kemudian menghadiri pertemuan kenegaraan
Trump dengan PM Kanada Justin Trudeau dan pertemuan baru-baru ini dia malah
duduk di sebelah Kanselir Jerman Angela Merkel.
Komentator politik ABC News,
Cokie Roberts, yang telah menulis beberapa buku tentang peran perempuan dalam
pembangunan Amerika Serikat dan dalam pemerintahan sebelumnya, mengatakan bahwa
Ivanka Trump bukanlah putri presiden pertama yang berperan dalam pemerintahan
ayahnya tapi peran mereka mungkin belum pernah sebesar itu.
Roberts merujuk pada putri
Presiden Amerika kelima James Monroe yang menjalankan tugas-tugas ibu negara
dari tahun 1817 sampai 1825. Eliza Monroe Hay memiliki peran publik yang cukup
besar dalam pemerintahan ayahnya karena sang ibu yang sakit-sakitan.
Doug Wead, penulis buku “Game
of Thorns: Inside the Clinton-Trump election of 2016,” menunjukkan bahwa Martha
Johnson, putri Presiden Andrew Johnson, banyak melakukan tugas-tugas ibu negara
untuk ayahnya yang menghadapi proses pemakzulan menjelang tahun 1868.
Ibunya sakit-sakitan sehingga
Martha mengambil alih peran ibu negara dan menciptakan berbagai protokol di
Gedung Putih yang ternyata masih berlaku sampai hari ini. Kabarnya dia juga berani
berkunjung ke Capitol Hill untuk melobi alokasi dana.
Sebelum Ivanka, putri presiden
yang paling berpengaruh dalam pemerintahan ayahnya mungkin Alice Roosevelt
Longworth dalam masa kepresidenan ayahnya dari tahun 1901 sampai 1909.
Menurut majalah Politico, Presiden
Theodore Roosevelt menjadikan putrinya sebagai aset politik pada tahun 1905
ketika dia mengirim “Princess Alice” ke Asia untuk lawatan 4 bulan. Sebagai
utusan ayahnya, Alice membantu membuka jalan bagi KTT di Portsmouth, New
Hampshire, untuk mengakhiri Perang Rusia-Jepang. Untuk upaya diplomatik tersebut,
yang membawa Amerika ke panggung internasional sebagai negara paling berpengaruh
di dunia, Presiden Roosevelt menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun
berikutnya.
Melihat sekilas sejarahnya
ternyata banyak juga putri presiden Amerika yang berperan besar di East Wing, yaitu bagian Gedung Putih di mana ibu negara berkantor,
tetapi tidak banyak yang berkantor di West Wing, apalagi dengan pengaruh besar seperti Ivanka Trump.
Seperti diketahui, lokasi
kantor resmi Presiden AS berada di West Wing. Di bagian yang juga disebut Executive
Office Building ini terdapat Oval Office, Cabinet Room, Situation Room, dan
Roosevelt Room yang biasa digunakan sebagai ruang pertemuan Presiden AS dengan
tamu-tamu pentingnya.
Mungkin perlu juga kita
menilai anak-anak calon presiden yang sudah dewasa sebelum mencoblos namanya
pada hari pemilu mengingat potensi peran mereka dalam pemerintahan sang ayah.
Ibuku sayang, apa kabar? Semoga sehat selalu ya, seperti halnya aku di sini. Apakah ibu sempat mengikuti acara America Now di Radio Sonora Rabu lalu? Kami sempat membahas tentang kabar terbaru bunga sakura lho, yang di sini dikenal sebagai cherry blossom. Tak lama memang, karena kesempatannya baru muncul pada penghujung acara. Itu sebabnya kutulis surat ini, Bu, untuk bercerita lebih banyak tentang musim sakura kali ini.
Masih teringat, ketika persis setahun lalu mengunjungiku, Ibu tak sempat berlama-lama memandangi sakura. Padahal aku tahu persis, Ibu sangat senang dan betah berlama-lama memandangi tanaman dan bunga-bunga yang indah. Memang hanya dua macam tempat yang selalu menarik perhatian Ibu: taman dan kebun, serta toko buku. O iya, Ibu pun tak sempat mengikuti berbagai acara di Ibu Kota untuk menyambut mekarnya sakura. Kesibukanku ketika itu malah membuatku lupa bercerita banyak tentang sakura. Oke, sekarang saja ya, kuceritakan serba serbi sakura di Washington DC.
Ibu, ketika Siska, penyiar Sonora itu menanyai aku dan Adri di ruang siar VOA tentang kabar terbaru sakura, hu hu… rasanya aku mau menangis. Aku belum tahu apakah tahun ini bisa menyaksikan bunga-bunganya merimbun berbarengan. Bagaimana bisa?
Sebetulnya Maret adalah bulannya bunga-bunga mulai bermekaran. Banyak orang sudah menunggu-nunggu untuk menyaksikan warna-warni bunga maupun pohon-pohon yang rimbun, bukan sekadar pohon, batang, dahan dan ranting yang gundul tanpa daun. Dan pohon-pohon sakura yang memamerkan bunga-bunganya secara serempak adalah salah satu atraksi yang paling banyak mengundang wisatawan di kawasan sekitar Tidal Basin, danau buatan di Washington DC, pada bulan Maret dan April.
TIDAL BASIN - Pohon-pohon sakura dengan bunga yang rimbun di tepian danau buatan Tidal Basin di Washington DC, sekiranya mekar serempak seperti tampak pada tahun 2016 lalu. (Foto: Tito Sidharta)
Aksi “A Day Without a Woman”
atau “Sehari Tanpa Perempuan” digelar Rabu lalu bertepatan dengan Hari
Perempuan Internasional oleh kelompok yang menyelenggarakan Women’s March
Januari lalu.
Mereka mengajak perempuan di
seluruh dunia untuk bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender, keadilan dan
hak-hak asasi perempuan serta semua orang yang tertindas karena gendernya,
melalui demonstrasi solidaritas ekonomi satu hari. Para perempuan Amerika
diajak untuk libur sehari dari pekerjaan yang dibayar maupun tidak dibayar, tidak
berbelanja selama sehari dan mengenakan baju merah sebagai tanda cinta dan
pengorbanan, warna energi dan aksi. “Sehari Tanpa Perempuan” ini pada dasarnya adalah
aksi mogok sehari untuk menunjukkan kekuatan ekonomi mereka.
Women participate in International Women’s Day Protest in
Washington, D.C. on March 8, 2017. (Photo: E. Sarai / VOA)
Menurut sebuah studi oleh
Center of American Progress, jika semua perempuan Amerika yang bekerja di luar
rumah libur sehari, produk domestik bruto Amerika akan terpangkas sampai $21
miliar untuk hari itu saja. Biro Sensus AS memang menyatakan lebih dari 47
persen angkatan kerja adalah perempuan.
Namun perempuan di Amerika masih
terus dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, mendapat 80 sen untuk setiap
dolar upah yang diterima laki-laki. Perempuan mengalami ketidakadilan yang
lebih besar, lebih rentan terhadap diskriminasi, pelecehan seksual, dan jaminan
kerja yang tidak jelas.
Walaupun tujuannya mulia,
strategi “Sehari Tanpa Perempuan” ini ternyata mengundang banyak kecaman dari
kalangan konservatif di Amerika yang menganggap aksi mogok ini
tidak jelas tujuannya dan mementingkan diri sendiri, dan hanya untuk perempuan kaya.
Mungkin teman-teman bertanya-tanya dengan judul di atas. Apa kaitannya dengan topik America Now, acara interaktif radio VOA Indonesia dengan radio Sonora, pekan ini? Memang tidak ada. Judul di atas, “Tambah Usia, Banyak Cerita” (many years, many stories) adalah tagline atau slogan dalam rangka 75 tahun usia Voice of America, VOA. Nah, kali ini saya ingin berbagi cerita dan gambar menyambut ulang tahun ke-75 VOA, yang perayaannya berlangsung Kamis 2 Maret lalu.
Meski baru sebentar bergabung, saya bangga bisa ikut menjadi bagian dari VOA dalam perjalanan usianya yang sudah cukup panjang. Ya, VOA mengudara untuk pertama kalinya pada 1 Februari 1942 melalui radio gelombang pendek. Siaran pertama berdurasi 15 menit ini dipancarkan ke Eropa untuk menangkis propaganda Nazi, sekitar tujuh minggu setelah Amerika resmi terjun ke kancah Perang Dunia ke-2.
Ketika itu, wartawan Amerika William Harlan Hale mengatakan, “Inilah suara yang disiarkan dari Amerika. Hari ini, dan pada jam yang sama setiap hari mulai sekarang, kami akan menyampaikan kepada Anda tentang Amerika dan perang. Beritanya mungkin baik atau buruk. Namun kami akan menyampaikan kebenaran.”
Walaupun penting bagi
kehidupan bersama dan bernegara, politik hanyalah salah satu aspek kehidupan.
Sebagian besar aspek kehidupan pribadi kita, termasuk keluarga, pertemanan,
hiburan, dan ibadah, sebaiknya jauh dari politik dan campur tangan pemerintah.
Kalaupun ada, campur tangan pemerintah hendaknya minimal saja, hanya untuk
kesejahteraan bersama. Ini pendapat saya. Bagaimana menurut Anda?
Bagi orang yang berkarier di
Washington D.C. tentu isu politik sudah menjadi menu pembicaraan sehari-hari.
Apalagi sebagai orang media dengan kantor di seberang gedung kongres, Capitol
Hill.
Selama masa kampanye pilpres
Amerika tahun lalu, saya banyak terlibat dalam debat politik, debat sehat untuk
membuka wawasan dan memahami argumentasi pihak lawan. Karena belum mengakar
pada salah satu dari kedua partai utama di Amerika, saya biasa dan suka
mengambil posisi sebagai lawan teman debat saya. Saya jadi banyak belajar
tentang Partai Demokrat dan Partai Republik.
Pendukung Hillary Clinton dan pendukung Donald Trump
berdampingan membawa poster dukungan masing-masing dalam parade Hari Pahlawan
di Chappaqua, New York. (Foto: Dok)
Kampanye pilpres yang lalu
memang diakui banyak orang sebagai
kampanye paling kotor dan paling memecah belah rakyat Amerika. Tapi
setelah Donald Trump terpilih dan Hillary Clinton langsung mengakui
kekalahannya, maka yang terbayang di benak saya adalah masa transisi yang damai
dan kehidupan kami akan kembali normal, terbebas dari pertikaian politik yang begitu
sengit.
Saya membandingkan dengan
persaingan ketat dalam pilpres 2000 antara George Bush dan Al Gore, yang
dimenangkan Bush, walaupun perhitungan suara nasional menunjukkan Gore unggul.
Apa daya keinginan saya tak
terwujud.
Dendamnya masih terus membara, tidak
seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos
menunjukkan situasi malah memburuk, memperlihatkan jarak yang melebar antara
Republik dan Demokrat dan mengerasnya posisi-posisi ideologis yang menurut para
sosiolog dan ilmuwan politik meningkatkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah
dan akan membuat kompromi politik semakin sulit.
Pelantikan presiden sendiri sudah
langsung didemo besar-besaran, malah dijadikan ajang politik bagi banyak
kelompok, mulai dari pendukung hak-hak perempuan, LGBT, imigran, keadilan
rasial sampai perubahan iklim. Padahal upacara itu seharusnya menjadi ajang untuk
merayakan persatuan setelah masa pemilu yang memecah-belah dan untuk menunjukkan
rasa hormat bagi institusi kepresidenan.
Suasana
‘Women’s March’ di Washington dari atap gedung Voice of America di Washington,
DC 21 Januari 2017(B. Allen / VOA)
Sebenarnya banyak hal sudah
biasa dipolitisasi di Amerika. Informasi atau satu peristiwa sudah sering dijadikan
bahan perdebatan politik atau posisi yang bertentangan antar partai yang dengan
mudah menyebar berkat sosial media sekarang ini. Orang-orang yang terlibat rasanya tidak
begitu peduli dengan fakta, objektivitas atau dampaknya bagi tatanan masyarakat.
Dalam isu seperti ras, agama,
keadilan sosial dan ekonomi, tampaknya orang Amerika tak bisa lepas dari lensa politik.
Dalam menalar isu-isu tersebut, mereka sepertinya bergantung pada doktrin
partai, baik yang tak kentara maupun yang terang-terangan.
Tapi setelah Presiden Trump
menjabat, dan mungkin karena gayanya dalam memerintah, pertikaian antara
kelompok yang berbeda ideologi di Amerika semakin ganas dan cakupannya semakin
luas.
Sekarang politik ada di mana
saja kapan saja di Amerika.
Bayangkan, beberapa toko di
daerah saya sampai harus melapor ke polisi karena di-bully oleh orang-orang yang tidak senang dengan pandangan
politiknya. Tapi memang agak janggal juga melihat pemilik toko memajang sikap
politiknya di depan toko.
Sejumlah merek terkenal seperti
L.L. Bean, Target dan New Balance, menghadapi
ancaman boikot karena salah seorang pejabatnya mendukung Trump. Sementara Patagonia,
yang menjual pakaian dan perlengkapan untuk kegiatan mendaki
gunung, olahraga salju dan lain-lain, menggunakan
toko-tokonya untuk kampanye “Vote Our Planet,” upaya mengurangi dampak perubahan iklim bagi lingkungan.
Lain lagi dengan, Phil Boyle,
pemilik jaringan toko buku komik Coliseum Of Comics di Florida. Dia marah dan
muak dengan politisasi isi buku komik dan mengancam akan berhenti menjual buku
komik itu jika mengadu partai politik dengan cerita kekerasan.
Yang lebih kasihan kasus Nordstrom.
Toko serba ada kelas atas itu memutuskan untuk tidak lagi memesan produk mode Ivanka
Trump karena penjualan selama ini lemah. Keputusan bisnis itu langsung
dipolitisasi oleh presiden dengan cuitan ini.
Capeklah mengikutinya.
Rasanya tidak sehat.
Mau cari hiburan dengan
menonton ajang penghargaan musik dan film malah jadi miris karena diwarnai
isu-isu politik yang bikin kesal.
Pada saat menerima penghargaan
Cecil B DeMille Award Januari lalu penghargaan Golden Globe, Meryl Streep menjelma
menjadi aktor politik, mengecam presiden terpilih AS Donald Trump.
Penyerahan Screen Actors’
Guild dan People’s Choice Awards setelah itu juga diisi pidato-pidato kecaman
terhadap keppres yang melarang sementara migrasi dari 7 negara yang mayoritas Muslim.
Tidak heran kalau banyak
orang Amerika deg-degan ketika menunggu Super Bowl ke-51, pertandingan sepak bola Amerika antara tim New
England Patriots dan Atlanta Falcons. Takut kalau ajang pertandingan olah raga
paling terkemuka, yang seharusnya tidak memandang perbedaan ideologi itu, dipolitisasi.
Walaupun Lady Gaga, pengisi
acara hiburan paruh waktu yang biasanya spektakuler, tidak terjerat dalam isu
politik yang kontroversial dan merangkul semua golongan, jutaan penonton sudah
menyaksikan iklan-iklan yang dibuat khusus untuk Super Bowl yang bernada
politis dan dianggap memecah belah.
Sekarang saya harus hati-hati
kalau berkomentar atau berdebat politik karena suasana yang semakin panas
membuat banyak orang dengan mudah mencap kita lawan atau kawan. Seolah-olah
tidak ada lagi orang yang netral, yang tidak memihak atau tidak tahu mau memihak
siapa.
Mungkin kita perlu ingat kata-kata
mutiara: segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik.
Politik memiliki tempat,
tetapi ketika berlebihan, ketika pemikiran kita dan banyak aspek kehidupan kita
dicemari isu politik, maka masyarakat menjadi tidak sehat dan sejahtera.
Ironis kalau mengingat politik
adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
Saya baru merasakan langsung kemeriahan perayaan Tahun
Baru Imlek setelah bermukim di Fairfax, Virginia, yang letaknya sekitar 20
kilometer dari Washington D.C.
Di kota-kota Amerika dengan komunitas Asia yang
besar, terutama Tionghoa, Chinese New Year Parade sudah menjadi acara tahunan
yang ditunggu-tunggu karena biasanya megah, menampilkan keragaman seni dan budaya
yang menarik, mulai dari pakaian warna-warni, musik, tari, lampion dan ornamen
unik lainnya, seni bela diri dan akrobat, marching band, dan tentu saja
barongsai dengan genderang yang meriah, yang di sini disebut Dragon and Lion
Dance.
Ketika tinggal di Indonesia sampai tahun 1995,
saya belum pernah melihat parade Imlek, apa lagi yang semeriah di China Town, Pecinan
Washington D.C.
Selain parade di kota besar seperti DC, New York, Boston,
Los Angeles, Seattle dan San Francisco, kegiatan-kegiatan yang dilakukan
komunitas kecil juga tidak kalah menariknya, bahkan sejak 14 Januari lalu sudah
ada acara-acara untuk menyambut tahun ayam, tahun 4715 yang jatuh pada 28
Januari 2017 ini.
Setiap tahun, Luther Jackson Middle School di
Falls Church (sekitar 15 menit dari rumah saya) menjadi tempat perayaan Tahun
Baru China atau Lunar New Year yang diselenggarakan oleh Asian Community
Service Center. Para siswa biasanya diminta mengenakan pakaian yang berbau Asia
dan mengikuti pawai barongsai mengelilingi sekolah mereka.
Anak-anak dan masyarakat sekitar yang datang tahun
ini dihibur dengan pertunjukan musik dan tari dari China, India, Thailand,
Indonesia dan Vietnam. Setelah itu mereka mengikuti permainan khas Asia,
membuat kerajinan tangan dan mencicipi makanan Asia yang lezat. Yang tak kalah
seru buat anak-anak sekolah itu adalah “lucky money”….angpao dalam amplop
merah.
Walikota Rockville, Maryland dan Council and Asian Pacific American Task
Force di kota itu bekerjasama untuk menggelar pertunjukan multi-generasi,
pameran dan mengajak anak-anak melakukan kegiatan budaya dan mencicipi
makanan-makanan khas Imlek.
Dalam
acara gratis ini anak-anak Indonesia yang tergabung dalam kelompok IKPA (Indonesian
Kids Performing Arts) menampilkan lagu-lagu rakyat dari Indonesia bagian timur
bersama kelompok budaya dari negara-negara Asia lainnya.
Smithsonian American Art Museum merayakan Lunar
New Year 2017 dengan mengundang masyarakat ikut membantu “membangunkan
singa” dan memulai tahun ayam dengan musik, kegiatan kerajinan yang menyenangkan,
pertunjukan tradisional yang disajikan dalam kemitraan dengan Kedutaan Besar
Republik Rakyat China.
Pada hari yang sama, masyarakat Vietnam merayakan
tahun barunya ‘Tet Celebration’ di Eden Center, kompleks pertokoan yang
bernuansa Saigon, dengan acara pertunjukkan seni.
Di Musium Tekstil Washington DC, masyarakat juga
bisa mengikuti acara Okinawa Lunar New Year, yang merayakan tahun baru sesuai tradisi
Kerajaan. Demonstrasi karate selalu menjadi sajian yang ditunggu-tunggu mengingat
Okinawa adalah kampung halaman seni bela diri tersebut. Acara grastis sepanjang
hari pertama tahun baru ini digelar oleh Okinawa Kai of Washington, D.C., dalam
kerjasama dengan pemerintah Okinawa.
Perayaan Imlek di Amerika juga berkaitan erat
dengan pesta perayaan datangnya musim semi yang berakhir pada bulan purnama, 15
hari kemudian. Acara yang disebut Lantern Festival ini kalau di Indonesia saya
ingat istilahnya Cap Go Meh.
Menurut Asian Community Service Center, penyelenggara
utama festival musim semi di daerah saya, tanggal 4 Februari adalah hari
istimewa karena merupakan awal musim semi menurut kalender lunar, yang diyakini
waktunya semua bangun dan nasib buruk rakyat diusir.
Pada tanggal itu, masyarakat sekitar Washington
D.C bisa menikmati perayaannya di Kennedy Center yang menampilkan akrobat Beijing
dan musisi China. Pengunjung bisa ikut belajar kaligrafi dan rias wajah/pakaian
Tionghoas, dll.
Perayaan Tahun Baru Imlek di Washington D.C.
rasanya bukan hanya untuk keluarga keturunan Tionghoa saja, tetapi sudah
menjadi tontonan spektakuler bagi masyarakat umum. Masyarakat kota ini banyak yang
saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, ucapan selamat dan semoga banyak rezeki, bahkan
kepada teman non-Tionghoa.
Walaupun sudah menjadi migran di Amerika sejak
tahun 1800-an, dan kebanyakan sudah berasimilasi dengan budaya barat, komunitas
Tionghoa tentu masih mengisi perayaan tahun baru ini dengan tradisi penting yang
dibawa nenek atau orang tua mereka, memahami makna ritual yang mereka lakukan,
dan pada akhirnya, membuat mereka bangga sebagai orang Tionghoa.